Selasa, 28 Juli 2026

Logika Tak Lagi Berkuasa

Mekar senja memeluk asa,

Kupinang bayang bermahkota.

Takdir menjawab luka semata,

Logika menang tanpa cinta.


Ruang kalbu menjadi gurun,

Langit membisu memendam embun.

Kuhimpun napas menahan runtun,

Menjahit hati dalam santun.


Fajar datang membawa pelita,

Sekuntum melati menyapa jiwa.

Menggenggam tangan tanpa meminta,

Mengukir janji menuju bahagia.


Kala cincin hendak bertakhta,

Mawar lama kembali menyapa.

"Masihkah logika menguasai rasa?"

"Kau lupa luka yang kau cipta."


Musim berganti menghapus jejak,

Silih berlabuh pada temaram.

Bayangmu tinggal bagai gerak,

Namun jiwa tak akan berulam.

Sabtu, 20 Juni 2026

Lembayung

Lembut samar lambaian malam

Menitik hasut lembaran legam

Serangkai rajut menutup kelam

Melantun sunyi terbuai temaram


Pedar rembulan pun menyapa

Berbisik mesra pada pujangga

Ada mawar menyemai rindu

Melabuhkan sajak sewindu


Mendekap erat melodi fana

Kelana rindu merajut asa

Terlantun berseri untaian kalbu

Menyapa lembut permata syahdu



Selasa, 21 April 2026

Senandung melodi malam bertaut sendu
Mengalun merdu terbalut lembaran larut
Embun pun bersaut menggugah kalut
Berpadu purnama melirik dan tersipu

Tergerak batin merangkul erat
Membawa ragu dalam pekat
Selama nafas tak terikat
Meralat nama yang tersirat

Menyambut permata yang tak terpikat
Diatas melodi sendu yang kusut
Menyongsong lembut lambaian mentari
Dalam lantunan garis sang penentu hari

Minggu, 19 April 2026

 Ada kisah pemuja Dewi

Berkasih dengan bayangan kalbu

Tatkala raga tak dapat bertemu

Berjalan berdamai dengan diri


Lelah hati tak terbalas

Menggenggam pahit kasih tulus

Terlatih malam derit melantun

Membawa sepi pada kesunyian 


Berkilau bintang merayu lirih

Menyapa hati tertelan sepi

Hening bersanding tertatih perih

Menggugah jiwa bangkit menyongsong mentari

Berdesir lirih berucap rindu

Lambaian sepi menutup rapuh

Hati berseru ingin bertemu

Tatkala jiwa tak lagi utuh


Malam pun hanya tersenyum layu

Melihat hati tak pernah berpadu

Hanya jiwa yang teredam pilu

Menoreh raga menyulam rayu


Torehan pedih merujuk hati

Masih terkadang menyapa berulangkali

Tertatih jalan bersama sepi

Aku telah berikrar janji

Kamis, 15 Agustus 2013

Sajak penantian sang bidadari

Bergelayut sang mentari di ufuk timur.
Mengadu keluh gelisah pada sang waktu,
Tersedu sedan menahan hasrat meninggalkan surau,
Menanti saat sang malam mngizinkan cahaya kehidupn untk bergulir,.

Hujan pun menoreh pilu tentang sebuah kisah,
Menyesakkan jiwa menuai takdir kehidupan,
Membawa jiwa pada sebuah keikhlasan,
Atas sebuah keinginan klasik meminang seorang gadis muslimah,

Terpaut janji semasa belia,
Sang pujangga pun menetapkan hati meminang bidadari,
Tak hayal setoreh keinginan keras menyemangatinya,
Untuk berucap kaulah belahan hati ini,

Created by govinda

Selasa, 13 Agustus 2013

Tujuan

okey,,,
pertama kalinya gw ngisi nih blog dengan ketikan laptop gw,,
hahahaha,,

ini jawaban atas pertanyaan temen gw,,
"ngapain lu bikin blog? kagak ada kerjaan saja?"

fine, itu pertanyaan ngebuat tensi gw naik,,
tetapi, aneh? ngapain gw bikin blog,,
sempat terpikir juga oleh gw,,
flash back, blog gw ini buat ngepublikasikan sajak" atau pun syair tentang cinta, kesedihan, kerinduan, broken heart, dan lain" yg masih menyangkut soal cinta,,
"pujangga",, sebutan yang cocok buat gw sang pembuat sajak,, hahahhahaha
tetapi apa bermanfaat? ntah lah,,hahahha
sajak ini di peruntukan untuk siapa? hahahha,, itu pribadi, adalah pokoknya
oke, it's just my opinion